Selasa, 11 Januari 2011

Awan Mengikuti orang yang bertaubat.....


Diriwayatkan bahawa seorang tukang jaga terpesona dengan gadis tetangganya. Suatu saat gadis itu mendapatkan tugas menyelesaikan urusan keluarganya di desa lain. Si tukang jaga itu mengambil peluang ini lalu mengikutinya dari belakang dan akhirnya berhasil menemukannya.


Si tukang jaga lalu mengajak gadis itu untuk menikmati kesempatan langka dan indah itu. Tetapi gadis itu menjawab, "Jangan lakukan. Meskipun aku sangat mencintaimu, aku sangat takut kepada Allah."


Mendengar jawapan itu, si tukang jaga merasa dunia ini berputar. Kerana menyesal dan sedar hatinya gementar, kerongkongnya terasa kering dan hatinya semakin berdebar, dia lalu berkata, "Kau takut kepada Allah sedangkan aku tidak."
Dia pulang sambil bertaubat. Di jalan ia diserang haus dan nyaris mati. Dia kemudian bertemu seorang soleh. Mereka berjalan bersama.





Mereka melihat gumpalan awan berjalan menaungi mereka berdua sampai mereka masuk ke sebuah desa. Mereka berdua yakin bahawa awan itu untuk orang yang soleh. Kemudian mereka berpisah di desa tersebut. Awan itu ternyata condong dan terus menaungi si tukang jaga itu sampai dia tiba di rumahnya.


Orang soleh tadi hairan melihat peristiwa ini. Dia lalu mengikuti tukang jaga tadi lantas bertanya kepadanya dan dijawabnya juga di tempat itu. Maka laki-laki itu berkata, "Janganlah hairan terhadap apa yang kau lihat, kerana orang yang bertaubat kepada Allah itu berada di suatu tempat yang tak seorang pun berada di situ."


Waallahualam bisawaf...

SIFAT TAQWA...


Sifat taqwa adalah aset bagi orang mukmin
Aset di dunia aset juga di Akhirat
Ertinya taqwa itu sangat mahal
Carilah taqwa sebanyak mungkin di dalam kehidupan
Ia adalah bekalan orang mukmin di Akhirat
Tuhan memang berpesan carilah bekalan, sebaik-baik bekalan adalah sifat taqwa
Asas taqwa adalah rukun iman, rukun Islam dan ihsan
Selain yang tiga adalah tambahan
Atau selain yang tiga adalah buahnya
Oleh itu jadikanlah semua aktiviti kita addin cara hidup
Jika cara hidup kita addin, ia adalah sifat taqwa
Jadikan projek pendidikan kita addin, projek ekonomi addin
Projek kebudayaan kita addin, projek pentadbiran kita addin
Bahkan jadikanlah seluruh projek perjuangan kita addin
Kalau seluruh projek perjuangan kita jadi addin barulah Tuhan terima dan diberi pahala
Itulah yang dimaksudkan oleh Tuhan “Barangsiapa mengkehendaki selain Islam
sebagai addin maka tidak akan diterima daripadanya”
Maka di Akhirat kelak menjadi orang yang rugi
Barulah kita faham sifat taqwa ada di mana-mana
Ia boleh berlaku di dalam sebarang masa
Cuma terpulang kepada kita sahaja
Apakah usaha kita boleh kita jadikan addin
Addin itu adalah cara hidup mengikut Tuhan
Janganlah anggap sifat taqwa itu hanya boleh berlaku di dalam masjid sahaja
Sifat taqwa banyak berlaku di dalam kehidupan yang global
Di darat, di laut, di udara
Di hutan, di lurah, di gunung
Di tengah padang pasir, di dalam musafir
Di rumah, di pejabat, di pasar
Di ladang, di masa lapang, di waktu tidur dan baring
Ada orang hendak mencari sifat taqwa di Mekah dan di Madinah
Di luar Mekah dan Madinah lebih lagi banyak
Mahu atau tidak sahaja
Terpulang kepada kita, tepuk dada tanya selera
Sifat taqwa ada di mana-mana
Janganlah sempitkan erti addin mengikut otak kita

Jumaat, 7 Januari 2011

Menjadi Seorang Muslim Sejati

Menjadi seorang muslim berarti menjadi hamba yang bersyukur atas kesehatan yang dimilikinya. Tidak ada sesuatu yang dapat menggantikan nikmat sehat yang diberikan Allah, termasuk kekayaan dan harta benda. Seorang muslim diharuskan untuk hanya takut kepada Allah semata, sepanjang malam dan siang. Sadarilah bahwa suatu saat engkau akan binasa.

Menjadi seorang muslim berarti melaksanakan qiyamullail, cinta terhadap amalan-amalan ibadah. Jika semua hal itu dilakukan karena Allah, niscaya keimananmu semakin bertambah kuat. Seorang muslim tidak akan mengucapkan kata-kata kotor kepada kedua orangtua, dan menghormati saudara.

Seorang muslim pun diwajibkan mengimani hal-hal ghaib dan berterima kasih kepada Allah karena telah menganugerahkan kenikmatan Islam dan iman. Menjadi muslim berarti mendirikan shalat lima kali dalam sehari. Hal tersebut merupakan kunci masuk surga, tidak ada cara lain.

Menjadi seorang muslim berarti menganggarkan pendapatan untuk diberikan kepada orang fakir miskin. Seorang muslim wajib menghormati seluruh nabi, meneladani seluruh perbuatan mereka, mengapresiasi semua prestasi yang mereka raih.

…Dengan menjadi seorang muslim, berarti Allah meninggikan jiwa kita dan mengarahkan kita kepada sebuah happy ending…

Menjadi seorang muslim berarti memiliki tekad kuat untuk mendapatkan semua pengetahuan dan wawasan keislaman. Hal tersebut dilakukan karena Allah. Lalu menyampaikan dan mentransformasikan pengetahuan tersebut kepada orang lain dengan penuh kerendahan hati.

Dengan menjadi seorang muslim, berarti Allah meninggikan jiwa kita dan mengarahkan kita kepada sebuah happy ending. Menjadi seorang muslim berarti memperlakukan saudara sesama mukmin dengan penuh cinta. Seorang muslim mesti menghormati para wanita muslim dengan menundukkan pandangan di hadapan mereka. Seorang muslim juga senantiasa memanjatkan doa di sepertiga malam.

Seorang muslim juga diharuskan mengagungkan Allah dengan mematuhi dan menjalankan semua hukum-Nya, serta menjauhi segala hukum buatan manusia. Seorang muslim akan meyakini bahwa Hari Pembalasan akan segera tiba dan siksa kubur adalah benar adanya.

Ajaran-ajaran Islam sungguh indah. Ia mampu mengeluarkan manusia dari tekanan kehidupan. Islam menyeru kita untuk menjadi hamba yang shaleh, menyembah Allah Yang Maha Esa yang akan membebaskan kita dari belenggu kegelisahan. Pembalasan atas perbuatan menjadi salah satu prinsip yang dikandung Islam. Membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an menjadi cara terampuh untuk menjadi hamba yang berperikemanusiaan.

Menjadi hamba Allah merupakan peran yang sangat membanggakan, karena dapat mengeluarkanmu dari kegelapan dan menerangi jiwamu. Sehingga jiwa menjadi terpuaskan. Tidak ada hal yang paling dicari umat manusia dari kepuasan dan kebahagiaan jiwa. Namun jika engkau mengabaikan segenap seruan Allah, maka bersiap-siaplah didera kesengsaraan. Maka bacalah Al-Qur’an yang di dalamnya memuat petunjuk untuk manusia.

Ia merupakan kitab suci umat Islam. Tak terhitung lagi jumlah orang-orang non-muslim yang berusaha untuk menyerang Al-Qur’an; mereduksi pemahamannya dan mengebiri kesakralannya. Alih-alih ingin mengkritik Al-Qur’an, mereka justru semakin menampakkan kebodohan mereka sendiri.

Islam tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang Arab saja. Ia ajaran universal untuk seluruh manusia dengan berbagai ras yang ada di muka bumi. Semua muslim memiliki hak dan kewajiban yang sama di dalam Islam. Mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menggapai surga.

Allah tidak pernah menyatakan bahwa surga itu mudah untuk diraih. Engkaulah yang harus pro-aktif untuk mendapatkannya dengan amalan-amalan ibadah, tidak cukup hanya dengan keyakinan tauhid di dalam hati saja. Surga digapai dengan tindakan yang meniscayakan pengorbanan jiwa dan harta.

Karena, mengetahui, memahami, dan mengamalkan tauhid merupakan kewajiban yang mesti dilakoni setiap muslim (fardu ‘ain). Karena, prinsip-prinsip tauhid berupaya keras menyelamatkan manusia dari kesesatan, sedangkan kemusyrikan dan kekafiran justru membenamkan manusia ke dalam lubang kenistaan.

Konsekuensi syahadat La Ilaha Illallah adalah meninggalkan segala bentuk peribadatan dan ketergantungan hati kepada selain Allah. Selain itu ia juga melahirkan sikap mencintai orang yang bertauhid dan membenci orang yang berbuat syirik. Sedangkan konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah adalah menaati Nabi, membenarkan sabdanya, meninggalkan larangannya, beramal dengan sunnahnya dan meninggalkan bid’ah, serta mendahulukan ucapannya di atas ucapan siapa pun.

… Jadi, menjadi seorang muslim berarti meyakini akidah Islam yang lurus, memasrahkan diri kepada Allah, dan mengamalkan segala perintah-Nya…

Jadi, menjadi seorang muslim berarti meyakini akidah Islam yang lurus, memasrahkan diri kepada Allah, dan mengamalkan segala perintah-Nya. Dan pengorbanan itulah yang akan dibalas Allah dengan surga bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Selasa, 4 Januari 2011

10 Sahabat Rasulullah yang dijamin masuk Syurga

Dengan menyebut Asma Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji hanya bagi Allah, yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkan di atas semua agama walaupun orang musyrik membencinya.
Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam,keluarganya,para sahabat,serta kaum muslimin yg selalu sabar, ikhlas serta istiqomah dalam mengikuti risalahnya.

Setiap orang pasti ingin masuk surga. Namun, tidak mudah untuk meraihnya. Tak cukup hanya mengaku sebagai Muslim, butuh ketaatan dan pengorbanan
Hidayatullah.com--Lihatlah bagaimana sikap itu ditunjukkan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Tidak hanya harta, jiwa dan raga pun rela mereka persembahkan untuk kejayaan Islam.


Dari sekian banyak sahabat Nabi, ada sepuluh sahabat yang memperoleh jaminan surga (Asratul Kiraam).

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ’anhu (RA) adalah khalifah pertama, setelah Nabi wafat. Ia sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah, kemanapun Nabi pergi, ia selalu menyertainya. Termasuk saat Rasul dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah, suatu perjalanan yang penuh dengan risiko.

Sejak remaja, Abu Bakar telah bersahabat dengan Nabi. Ia juga orang pertama yang memeluk Islam. Tidaklah sulit baginya untuk mempercayai ajaran Islam, karena tahu betul keagungan akhlak Rasulullah.
Demikian juga saat Nabi menyampaikan peristiwa Isra Mi’raj. Abu Bakarlah sahabat yang pertama kali membenarkan peristiwa tersebut. Oleh sebab itu, ia diberi gelar oleh Rasulullah yakni Ash-Shiddiq (yang benar, jujur, dan membenarkan).

Abu Bakar wafat dalam usia 63 tahun (13 Hijriah). Ia dikebumikan di Madinah bersebelahan dengan makam Rasulullah. Ia diriwayatkan 142 Hadits.

2. ‘Umar bin Khattab
‘Umar bin Khaththab RA adalah khalifah kedua. Ia termasuk sahabat yang sangat dikasihi oleh Nabi. Sebelum masuk Islam, ia dikenal sebagai sosok yang jago gulat dan gemar mabuk-mabukan. Seluruh penduduk Makkah merasa takut kepadanya.

’Umar memeluk Islam setelah mendengar surat Thoha yang dibacakan saudara perempuannya. Ia sangat keras dalam membela agama Allah. Ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraisy terhadap diri Nabi dan sahabat.
Saat ’Umar diangkat menjadi khalifah, daerah kekuasaan Islam bertambah. Kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukan dalam kurun waktu satu tahun (636-637 M). Pemimpin yang sederhana dan peduli para rakyatnya ini, wafat setelah dibunuh Abu Lukluk saat hendak memimpin shalat ( 23 H/644 M). Ia dimakamkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah.

3. ‘Utsman bin Affan
‘Utsman bin Affan RA adalah khalifah Islam ketiga. Pada saat kepemimpinannya, ia berhasil mengumpulkan wahyu, dan menyusunnya dalam bentuk mushaf Al- Qur’an.
’Utsman masuk Islam lewat ajakan Abu Bakar As-Siddiq. Ia mendapat gelar Dzun Nur ’Ain (Pemilik Dua Cahaya), karena menikahi dua putri Nabi, Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
’Utsman dikenal sebagai saudagar kaya dan dermawan. Ia selalu menafkahkan hartanya di jalan Allah. Saat berkecamuk perang Tabuk, ’Utsman menyumbang lebih dari 940 unta, kemudian membawa 60 kuda untuk menggenapinya menjadi 1000. Usman Wafat pada tahun 35H atau 655M.

4. ‘Ali bin Abi Thalib
‘Ali bin Abi Thalib RA dilahirkan di Makkah tahun 598 Masehi. Suami dari putri Nabi, Fatimah, ini merupakan orang yang pertama masuk Islam dari golongan anak-anak. Sebagian meriwayatkan saat itu usianya 10 tahun.

’Ali terkenal orang yang sangat berani, ahli siasat perang, dan cerdas. Pada saat peristiwa hijrah, ’Ali tidur di atas tempat tidur Rasulullah. Sehingga, para tentara Quraisy yang mengepung rumah Nabi, mengira Nabi masih berada di dalam rumah.
’Ali wafat pada tahun 40 Hijriyah, setelah ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam dengan pedang yang beracun setelah shalat Shubuh. Ia meninggal dalam usia 63 tahun dan menjabat sebagai khalifah selama 4 tahun 9 bulan. Beliau dimakamkan di Kufah, Irak.

5. Thalhah bin Abdullah
Thalhah bin ’Abdullah dikenal sebagai salah satu konsultan Rasulullah. Ia berasal dari suku Quraisy.

Saat berkecamuk perang Uhud, Thalhah ikut serta. Di arena tersebut ia menderita luka parah. Dia menjadikan dirinya sebuah perisai bagi Rasulullah dan mengalihkan panah yang akan menancap diri Nabi dengan tangannya. Sehingga semua jari-jarinya putus.
Thalhah wafat pada 36 H atau 656 M. Ia Syahid saat mengikuti perang Jamal.

6. Zubair bin Awwam
Zubair bin Awwan termasuk golongan yang pertama masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Usianya saat itu baru 15 tahun.

Pembelaannya terhadap Islam begitu nyata, Zubair tidak pernah absen dalam berbagai petempuran bersama kaum muslimin. Ia selalu berada di garda depan saat jihad dikumandangkan. Sekujur tubuhnya terdapat luka dari hasil peperangan.
Ia sangat dicintai Rasulullah. Saat terjadi perseturuan di antara kaum muslimin, Zubair tidak sedikit pun memihak yang berseteru. Ia malah berusaha menyatukannya.

Zubair ditikam ketika sedang menghadap Allah, ia wafat pada tahun 36H atau 656M.
7. Sa’ad bin Abi Waqqas
Sa’ad bin Abi Waqqas memeluk Islam saat berusia 17 tahun. Ia sangat mahir menunggang kuda dan memanah. Jika ia memanah musuh dalam sebuah peperangan pastilah tepat sasaran. Hampir seluruh peperangan ia ikuti.
Saat awal memeluk Islam, ibunya mengancam mogok makan dan minum. Dengan harapan, Sa’ad kembali ke ajaran nenek moyang. Namun, hampir sang ibu menemui ajal, ancaman itu dihiraukannya. Ia tidak menjual keyakinannya dengan apa pun, nyawa ibunya sekalipun.
Saat periode Khalifah Umar bin Khattab, Sa’ad diangkat sebagai gubernur militer di Iraq yang bertugas mengatur pemerintahan dan sebagai panglima tentara.
Sa’ad wafat pada usia 70 tahun (55H atau 675M). Ia dimakamkan ditanah Baqi’

8. Sa’id bin Zaid
Sa’id adalah di antara sahabat yang beruntung. Dia masuk Islam bersama-sama istrinya, Fathimah binti Al-Khaththab, adik perempuan ‘Umar bin Khaththab. Sa’id membaktikan segenap daya dan tenaganya untuk berkhidmat kepada Islam. Ketika memeluk Islam usianya belum genap 20 tahun.

Sa’id turut berperang bersama Rasulullah dalam setiap peperangan. Ia juga turut bersama kaum muslimin mencabut singgasana Kisra Persia. Sa’id pernah diperintahkan Rasulullah untuk memata-matai aktivitas musuh.
Ia wafat dalam usia 70 tahun (51H atau 671M), dan dimakamkan di Baqi’, Madinah.

9. ‘Abdurrahman bin ‘Auf
’
Abdurrahman bin ’Auf juga termasuk tujuh orang yang pertama masuk Islam. Ia di antara sahabat Rasul yang memiliki harta berlimpah. Selurah hartanya itu ia peroleh melalui perniagaan.

Kesuksesannya tidak membuat ia lupa diri. Ia selalu menafkahkan hartanya di jalan Allah. Bahkan saat ia diberitakan Rasulullah bahwa dirinya dijamin masuk surga, semangat bersedekahnya semakin membara. Tak kurang dari 40.000 dirham perak, 40.000 dirham emas, 500 ekor kuda perang, dan 1.500 ekor unta ia sumbangkan untuk perjuangan menegakkan Islam.
Abdurrahman sempat berhijrah ke Habasyah sebanyak dua kali. Ia wafat pada umur 72 tahun (32H/652M) dan dimakamkan di baqi’.

10.Abu ‘Ubaidah bin Jarrah
Rasulullah pernah memberikan pernyataan tentang Abu ‘Ubaidah. “Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, dan sesungguhnya kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah,” begitu kata Rasulullah. Abu Ubaidah orang yang amanah dan jujur dalam berperilaku.
Abu Ubaidah masuk Islam melalui perantara Abu Bakar As-Shiddiq diawal kerasulan Muhammad. Ia beberapa kali dipercaya Rasul memimpin peperangan. Ia wafat pada tahun 18H atau 639M.

Isnin, 3 Januari 2011

HIDUPLAH SEBAGAI JIWA YANG IKHLAS


“Setiap jiwa adalah jiwa kecintaan Tuhan
yang diturunkan ke alam kehidupan raga sebagai manusia
yang bertugas mewujudkan kemuliaan dari jiwanya
untuk mengindahkan kehidupan sesamanya
bagi keindahan hidupnya di surga.

Dan jiwa yang mampu memimpin dirinya sendiri
untuk keluar dari kekhawatiran, ketidak-tegasan,
penundaan, dan kemalasan,
memiliki semua potensi untuk memindahkan gunung.

Karena sesungguhnya,
kekuatan setiap jiwa dijamin oleh Sang Pencipta.

Maka marilah kita ingat kembali
pesan yang disampaikan pada hari kelahiran kita …

Hiduplah sebagai jiwa yang ikhlas.”
Sesungguhnya, …

Keikhlasan adalah gerbang keemasan yang memisahkan kehidupan yang bebannya harus kita pikul sendiri dan kehidupan yang bebannya dipukul bersama Tuhan.

Dengannya, inilah jawapan bagi dia yang bertanya,

Apakah ikhlas itu?

Ikhlas adalah seutuhnya menerima Tuhan dengan semua kebenaran-Nya.

Bagaimana caranya untuk ikhlas?

Terimalah Tuhan dengan seutuhnya, bersama semua kebenaran-Nya.

Tetapi mengapakah ikhlas itu sulit?

Kerana engkau memilih mempertahankan kebiasaan dan kesenangan mu yang tak akan memperkuat dan memuliakanmu, daripada memilih pikiran, sikap, dan perilaku yang ditetapkan oleh Tuhan sebagai jalan lurus menuju kedamaian dan kesejahteraanmu.

Apakah jaminannya bahwa hidup saya akan baik, jika saya ikhlas?

Tidak ada jaminan untuk keikhlasan, karena jaminan itu tidak diperlukan.
Yang ada adalah bukti, bahwa kurangnya keikhlasanmu telah melemahkan hidupmu.
Apakah kegelisahan hatimu tidak cukup menjadi bukti bahwa tidak ada kedamaian di luar keikhlasan?

………..

Engkau Tuhanku.

Aku ber-Tuhan.
Aku berterima kasih karena Kau izinkan aku mengatakan, bahawa …
Aku memiliki Tuhan.

Engkau lah yang memiliki semua,
maka sesungguhnya aku tak memharapkankan apa pun.

Aku hanya mengharapkan-Mu.
Kerana, jika aku memiliki-Mu, aku memiliki semua.

Tuhan ku,
… amat dalam kecintaan ku kepada Mu
aku memohon … dalam kerinduan ku untuk kelembutan kasih sayang Mu

… kasihilah aku.

… damaikanlah hatiku, indahkanlah wajahku, merdukanlah suaraku,
indahkanlah cara-caraku, baikkanlah hati sesamaku kepada ku,
kuatkanlah aku, mudahkanlah urusanku, baikkanlah rezeki ku,
dan bahagiakanlah keluarga ku …

Amien …

Kemudian tangan ini terus bergerak mencari. Adakah kiat2 ikhlas yang lain?

Dan menemukan ini kiat2 ampuhnya:

* Pendalaman terhadap tauhid dan pengenalan terhadap Allah
* Berdoa kepada Allah SWT, memohon diberikan keikhlasan
* Ikhlas tidak akan bergabung dengan dua sifat yaitu:
o Cinta atau senang dipuji dan disanjung > cara menghilangkannya dgn meyakini tak ada satupun pujian manusia memberikan manfaat dan celaan manusia memberikan madharat kepada kita kecuali Allah SWT
o Selalu mengharapkan balasan dari manusia> cara menghilangkannya dgn meyakini apapun yg ada di manusia maka yg ada pada Allah SWT lebih sempurna bahkan yg ada di manusia tak akan kita dapatkan kecuali atas izin Allah SWT.
* cara mendapatkan ikhlas adalah dengan mujahadah, bersungguh2 berlatih dan mendapatkannya. Menundukkan hawa nafsu untuk mengikuti ketaatan kepada Allah. Memaksakan dan membiasakan diri untuk ikhlas.
* semua sifat baik dalam agama harus dilatih untuk mendapatkannya
* melatih terbiasa melakukan amalan yang tidak sesuai dg keinginan hawa nafsu kita. Misalnya, kita disakiti seseorang tapi kita berbuat baik kepadanya/ menolongnya. Biasanya jika seseorang baik kepada kita maka kita mudah menolong, bila tidak baik maka susah/ berat hati kita berbuat baik padanya, ini karena nafsu mempengaruhi tindakan kita. Ini menunjukkan kita berbuat baik itu karena keinginan diri semata. Cinta sejati krn Allah maka cinta tersebut tdk bertambah karena kebaikan atau keburukan di dunia semata2
* Awal seseorang menempuh jalan Allah, karena nafsunya belum ditundukkan maka seseorang itu perlu berjuang. Setelah Allah tahu kesungguhannya, maka barulah Allah akan beri hidayah padanya sesuai kesungguhannya. Maka yang paling sempurna hidayahnya adalah orang yang paling besar perjuangannya/ bersungguh2 dalam usahanya untuk mendapatkan hidayah itu.



Ahad, 2 Januari 2011

Jenis2 Cinta.... Apakah Jenis Cinta Kita???


Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Allah SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Allah SWT, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Allah SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Allah SWT daripada perintah yang lain.


Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:


1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, mahunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.


2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih walaupun ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.


Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antara orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim ertinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.




3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedut seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.


4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) boleh jadi seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyedari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, isteri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.


5. Cinta ra’fah, iaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak sanggup membangunkannya untuk solat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kes hukuman bagi pezina (Q/24:2).


6. Cinta shobwah, iaitu cinta buta, cinta yang mendorong kelakuan yang menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)


7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahawa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba.




Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab “Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin”, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, (hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi).


8. Cinta kulfah yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

Sabtu, 1 Januari 2011

TENTANG TAWAKAL


Seseorang yang bermaksud mewakilkan sebuah urusan ataupun persoalannya untuk diselesaikan oleh pihak lain, tentu akan memilih wakil yang tepat serta dapat ia percaya secara penuh. Jika ia tersangkut perkara hukum, maka pihak atau wakil yang tepat untuk ia tunjuk tentunya para advocate atau pengacara. Begitu juga jika seseorang ingin menyelesaikan persoalan yang menyangkut masalah kesehatan dirinya, maka hampir bisa dipastikan ia akan memilih dokter ternama ketimbang berurusan dengan dukun dari kampung bojong nangka.

Akan tetapi, Point terpenting dari sebuah pendelegasian disetiap persoalan apapun adalah; kepercayaan penuh bahwa pihak yang ditunjuk untuk mewakili adalah benar-benar pihak yang memiliki kredibilitas dan kapabilitas yang tidak diragukan. Di samping tentunya ia juga harus memiliki pengalaman dan jam terbang yang tinggi dalam mengatasi persoalan yang memiliki muatan sama sebagaimana persoalan yang sedang dihadapi.

Dalam bahasa agama, fenomena pendelegasian ini dikenal dengan sebutan Tawakkal/tawakul. Ia menjadi salahsatu pesan agama yang cukup penting sehingga sering diulang berkali-kali di berbagai tempat dalam al-Qur’an. “fatawakkal ‘ala Allah” (Maka hendaknya engkau bertawakkal pada Allah). “wa mayyatawakkal ‘ala Allah fahuwa hasbuh” (Barangsiapa yang bertawakkal pada Allah maka cukuplah hal itu bagi dirinya..) dsb.

Kata tawakkal tercerabut dari kata dasar wakala, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna, wakil, duta, dan mungkin juga bisa berarti ‘asistensi’ sehingga kalimat “tawakkal ‘ala Allah” dalam dua ayat di atas, dapat difahami sebagai;
“Maka, hendaknya hanya kepada Allah saja engkau mewakilkan urusanmu” Dan “Siapapun yang menyerahkan secara penuh urusannya kepada Allah untuk diselesaikan, maka hal itu sudah cukup baginya tanpa perlu mencari wakil yang lain..”

Adakah di dunia ini pihak yang tepat menjadi wakil kita untuk kita serahkan serta percayakan padanya berbagai urusan kita? Adakah pihak atau seseorang yang benar-benar tahu jeritan hati kita yang terdalam? Seseorang yang memahami—layaknya membaca sebuah buku—, setiap rangkaian kata, hingga titik komanya setiap apa-apa yang tertulis dalam fikiran atau yang tercetak di dasar hati kita? Rasanya tidak ada dan pasti tidak akan pernah ada. Oleh karena itu, jika kita menginginkan persoalan hidup dituntaskan secara sempurna, maka wakilkanlah segala persoalan itu kepada Dzat yang juga Maha Sempurna. Allah, adalah Dzat Yang Maha Sempurna, yang selalu membuka pintu-pintu-Nya untuk diketuk oleh hati-hati yang khusyuk penuh cinta…

Pertanyaannya kemudian adalah; di manakah kita harus meletakkan tawakkal? Bukankah dalam hidup kita diwajibkan untuk berusaha (ikhtiar) dan berdoa?. Bukankah kedua instrumen itu yang justru akan sangat mewarnai hasil akhir dari sesuatu yang kita usahakan..?

Benaaar... Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu; Kita memang harus berusaha/berikhtiar dan berdoa untuk setiap sesuatu yang kita inginkan atau sesuatu yang sedang kita hadapi.. Dipenghujung jalan ikhtiar yang dipungkasi doa itu, ternyata ada sebuah pintu lagi yang bisa kita temukan.. Di situlah letaknya tawakkal, Ia bermukim di wilayah kesadaran hati saat kita pasrah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya untuk diselesaikan… Rumah tawakal tak jauh dari halaman belakang doa dikala hati kita secara sadar mengakui kerapuhan diri yang mengantarkan kepasrahan pada ketentuan (takdir) Allah. Apapun yang kita usahakan dan kita pintakan melalui doa, hasil akhirnya kita serahkan IA yang menjadi penentu Takdir kita. Yang menjadi wakil kita dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang mungkin kita rasakan sulit terpecahkan dan yang membuat otak kita terasa buntu…

Sahabat.. setelah sehari kita bekerja, bertarung dan berikhtiar penuh suka cita, maka ambillah sedikit jeda.. sekadar waktu sesaat untuk mengangkat tangan-tangan kita yang lemah, mengetuk pintu-pintu Rahmat-Nya, agar dapat kita sampaikan apa-apa yang menjadi nafas cita kita, yang menjadi kesulitan dan jerit tangis kita, serta apa-apa yang menjadi kerinduan hati kita…

Rabbana ‘alaika tawakkalna, Waa ilaika anabna, Waa ilaika al-mashir
Rabbana atina min ladunka rahmah, Waa hayyik lana min amrina rosyada,

Wallahu a’lam